Piye

Tiga WNA Diciduk, Penyebabnya Bikin Bengong Sendiri

Tiga WNA Diciduk, Penyebabnya Bikin Bengong Sendiri
SuaraLombok.com | Mataram - Tiga WNA berhasil diamankan Petugas Imigrasi Kelas I Mataram.

Dua diantaranya berkebangsaan Spanyol dengan inisial AJG (63), IRU (34), dan JWP (71) kebangsaan Australia. Ketiganya diamankan lantaran di duga telah melakukan pelanggaran ijin tinggal keimigrasian.

Penangkapan tersebut dilakulan Petugas Imigrasi Kelas I Maratam bekerjasama dengan Tim Khusus Polda NTB dalam Operasi Gabungan (Opgab) yang dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2017.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim), Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Ramdhani mengungkapkan kronologis penangkapannya pagi tadi, Jumat (13/10).

Ramdhani membeberkan dua WNA kebangsaan Spanyol itu di tangkap di Bungalow milik AJG yang terletak di Gili Air, KLU.

"Dua yang kebangsaan Spanyol ditangkap di salah satu bungalow di Gili Air KLU," ungkap Rhamdani.

Ramdhani mengungkapkan indikasi dua orang tersebut melalukakn pelanggaran ijin tinggal keimigrasian, yakni menyalah gunakan visa yang mereka miliki.

"Mereka mendapatkan keuntungan atau hasil dengan menyewakan bungalow, yang notabene ijin tinggal mereka tidak memperkenankan untuk itu," jelasnya.

Dari hasil pemerikasaan Ramdhani mengungkapkan bahwa AJG telah tinggal selama lima tahun di Lombok dan beriventasi di bidang jasa penginapan, Gili Air.

Namun saat ini AJG yang merupakan pemilik Bungalow tersebut menggunakan visa on travle yang memiliki durasi ijin tinggal selama 30 hari.

Sedangkan IRU bertindak sebagai manajer pemasaran diketahui baru tinggal selama dua bulan. Turis Spanyol ini kedapatan menyewakan usaha bungalow dengan tarif sebesar Rp 700 ribu permalam.

Pun dengan warga Australia berinisial JWP (71). Pria berusia lanjut usia ini terciduk di kediamannya yang berada di kawasan Senggigi, Lombok Barat.

Pelanggaran yang dilakukan JWP juga sama dengan dua warga Spanyol tersebut, yakni menjalankan usaha di Lombok.

JWP disebut telah tinggal di Lombok selama dua tahun terakhir, dan 20 tahun berada di Indonesia, dengan bolak-balik Bali dan Lombok.

"Warga Australia itu gunakan Kitas Lansia, tapi dia cari keuntungan di sini dengan menjual properti," lanjut Ramdhani.

JWP menyewakan rumah kepada para ekspatriat yang ada di Lombok dengan tarif sebesar Rp 300 ribu permalam.

Pihak Imigrasi, lanjut Ramdhani, masih mendalami modus operandi ketiga WNA tersebut. Termasuk mengenai besaran keuntungan yang didapat.

Menurut Ramdhani, ketiganya diduga melanggar pasal 122 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Ijin Tinggal Keimigrasian.

"Kita tindaklanjuti apakah projustisia atau deportasi. Jika terbukti melakukan pelanggaran terancam hukuman lima tahun penjara atau denda 500 juta rupiah," kata Ramdhani menambahkan. (cr-04)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.