Piye

Kursi Pelaminan Ternyata Jadi Penghambat Pertumbuhan IPM NTB

Kursi Pelaminan Ternyata Jadi Penghambat Pertumbuhan IPM NTB
SuaraLombok.com | Mataram - Pemprov NTB melalui BKKBN menyatakan jika kursi pelaminan atau pernikahan terutama pernikahan usia muda menjadi penyebab terhambatnya pertumbuhan IPM di NTB.

Saat ini, IPM NTB berada pada rangking 30 dari 34 Provinsi yang berarti sangat rendah dan membuat semua pihak miris.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Dr. Makripuddin M.Si mengatakan, akibat pernikahan usia muda tidak hanya berdampak pada kondisi mental, psikologi, dan ekonomi.

"Usia perkawinan dini kita sakarang itu yang menikah 15 tahun masih ada sekitar 4,5 persen, yang menikah dibawah 19 tahun masih ada juga sekitar 44 persen, artinya menikah dibawah 19 tahun itu masih menikah usia anak-anak yakni 18 tahun kebawah. Sehingga kalau menikah di usia anak tentunya kita tidak bisa berharap banyak dia akan dapat melanggengkan perkawinannya dan akan dapat mengasuh anaknya dengan baik, kita tidak bisa berharap banyak," katanya panjang lebar kepada awak media saat ditemui di Mataram, Jumat (20/10).

Angka pernikahan muda sangat tinggi. Secara teori mereka yang menikah pada usia muda belum siap dengan pekerjaan.

Karena belum memliki pekerjaan maka ketika menikah, mereka menjadi keluarga tidak mampu.

Selain itu, menikah usia muda dengan tingkat pendidikan yang rendah dan pekerjaan yang terbatas.

"Karena pekerjaan terbatas maka dengan penghasilan yang rendah dengan begitu ya mereka termasuk tidak mampu, secara teori begitu, namun pengaruhnya pada kemiskinan secara khusus belum di ukur," ujarnya.

Oleh sebab itu, salah satu solusi BKKBN yakni dengan program KB, yang merupakan salah satu dari tiga indikator penentu yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

“Kalau ibu-ibu ikut KB maka tentu tidak melahirkan dengan jarak dekat. Kalau tidak melahirkan tentu tidak ada ibu meninggal kerena melahirkan," jelasnya. (cr-04)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.