Piye

Entaskan Kebutaan Anak, SCB Sasar Indonesia Wilayah Timur

Entaskan Kebutaan Anak, SCB Sasar Indonesia Wilayah Timur
SuaraLombok.com | Mataram - Standard Chartered Bank (SCB) bersama The Fred Hollows Foundation (FHF) melaunching program Seeing is Believing.

Program kesehatan mata yang akan berjalan hingga tahun 2020 ini menargetkan menekan angka kebutaan anak, low vision, dan kerusakan mata pada anak dengan sasaran sekitar 550 ribu anak usia Sekolah Dasar di NTB.

Wakil Gubernur NTB, M Amin menyatakan menyambut baik kegiatan tersebut. Dalam sambutannya ia menyatakan kagiatan itu bukan hanya sekedar seremoni.

Lebih dari itu, mengandung makna yang sangat besar manfaatnya bagi masyarakat NTB bahwa penglihatan merupakan karunia dan nikmat terbesar dalam kehidupan.

"Mata adalah salah satu organ yang luar biasa fungsinya dalam khidupan," ujarnya.

Program ini, sambung Amin, merupakan salah satu bentuk kepedulian lembaga internasional yang telah memberikan kontribusi pada daerah NTB dalam rangka bagaimana anak-anak Indonesia khususnya NTB melawan kebutaan dan gangguan penglihatan lainnya.

"Sehingga perlu untuk melakukan pendektesian dini dan intervensi untuk menghindari anak-anak dari kebutaan tersebut", ucapnya.

Mengingat bahwa anak-anak sebagai penerus generasi bangsa, untuk itu memerlukan peran dan kerjasama semua pihak seperti pendidikan juga kesehatan yang dapat melakukan skrining awal bagi anak atau peserta didik yang mengalami gangguan ksehatan.

"Sebagai orang tua kita punya tanggung jawab besar dan juga memerlukan peran semua pihak dan kerjasama seperti pendidikan dan kesehatan yang dapat melakukan skrining awal bagi anak atau peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Nurhandini Eka Dewi mengatakan, prevalensi angka kebutaan di NTB masih tinggi dan menjadi urutan kedua tertinggi di Indonesia yakni berkisar 4 persen, di saat angka rata-rata nasional hanya 2,8 persen.

Untuk resiko gangguan penglihatan pada anak usia SD, menurut Nurhandini, sekitar 10 persen anak SD di NTB mengalami gangguan penglihatan atau low vision.

"Berdasarkan survay di beberapa sampel SD, itu 10 persen anak SD di NTB mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan kacamata. Penyebabnya ada salah cara membaca, kurang cahaya, dan juga ada pengaruh penggunaan gadget, selain kelainan bawaan lainnya," kata Nurhandini.

Ia menjelaskan, dalam program ini SCB bersama FHF juga akan memfasilitasi Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) Mataram dengan perangkat optik berkualitas dengan harga yang terjangkau.

"Salah satu masalah orang untuk memakai kacamata kan soal harga. Nah dalam program ini akan dibantu kacamata murah," ucapnya.

Country Head Brand Marketing SCB Indonesia, Rosalinda Hoesin, menjelaskan, program Seeing is Believing merupakan inisiatif global Standard Chartered Bank untuk mencegah kebutaan di komunitas-komunitas di mana Bank beroperasi.

Program ini menurutnya, telah berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 95 juta dan menyentuh sedikitnya 150,3 juta penerima bantuan di 30-an negara, termasuk Indonesia.

"Di NTB, program akan menyasar 550 ribu anak SD di lima Kabupaten/Kota, yakni Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa Barat. Program ini akan berlangsung hingga 2020 mendatang," kata Rosalinda.

Seremoni launching program seeing is believing di Mataram, juga dirangkai dengan pembagian kacamata gratis untuk 100 siswa SDN 11 Mataram, dan juga pemeriksaan mata untuk seluruh siswa di sekolah itu. (cr-04)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.