Piye

Geger! Sopir Ini Beberkan Kebiasaan Wabup Loteng yang Tidak Banyak Diketahui Orang

Geger! Sopir Ini Beberkan Kebiasaan Wabup Loteng yang Tidak Banyak Diketahui Orang
SuaraLombok.com | Lombok Tengah - Salah satu sopir Wakil Bupati Loteng, Husni Mubarak blak-blakan terkait kebiasaan Wabup yang jarang diketahui banyak orang.

Pria kelahiran 1975 ini dengan gamblang menceritakan kepada Suara Lombok tentang kebiasaan yang bisa dikatakan baru pertama kali ia temukan selama menjadi sopir para pejabat di lingkup Pemkab Loteng.

Diceritakan Husni, sapaan akrabnya, Wabup Pathul yang berpenampilan sederhana itu seringkali bepergian malam untuk menyambangi kawasan penduduk yang jauh dari perkotaan.

“Kalau beliau sedang tidak ada tamu dan sedang tidak ada acara, biasanya beliau ajak kami keluar sambangi penduduk,” tuturnya pada Suara Lombok.

Jika kebetulan Wabup melihat ada sekelompok pemuda sedang nongkrong, biasanya Wabup akan menyapa mereka.

“Beliau sapa mereka, malah sering duduk diskusi sama mereka. Mobil sih ditinggal di tempat yang agak renggang,” lanjut dia.

Tidak jarang, Wabup memberikan uang untuk sekedar membeli rokok dengan syarat tidak boleh digunakan untuk membeli barang yang haram seperti minuman keras dan lain sebagainya.

Di mata Husni, Wabup Pathul merupakan sosok yang luar biasa. Hal itu dirasakannya selama menjadi supir Pathul sejak awal Pathul dilantik menjadi Wabup Loteng.

Pernah pada suatu hari, lanjut Husni bercerita, Pathul mengajaknya berangkat pagi sekali. Waktu itu usai shalat subuh.

Tanpa mengetahui tujuan sebenarnya, dia mengkuti perintah untuk membawa sang Wabup ke sebuah perkampungan. Ternyata mereka bergerak ke Kampung Jawa di Praya.

Di tempat itu, Wabup memintanya memarkir mobil dengan plat DR 459 cukup renggang dengan tujuan awalnya. Tujuan saat itu adalah penjual serabi setengah baya yang biasa berjualan di lokasi itu.

Sesampainya di depan penjual dan memesan, tidak disangka-sangka, Wabup ikut membantu penjual serabi itu menyalakan tungku perapian.

“Beliau memesan 10 bungkus kalau saya tidak salah ingat, beliau sendiri yang meniup api dan memasukan kayu ke dalam jangkih (Tungku khas Sasak-Red),” ceritanya melanjutkan.

Sambil berbincang seputar penghasilan si tukang serabi, keluhan terhadap pemerintahan Lombok Tengah dan lain sebagainya, Wabup terus membantu si tukang serabi dan mendengar keluh kesahnya.

Ketika serabi pesanan usai dibungkus, Wabup membayar dengan uang Rp. 1 juta untuk dua orang pedagang yang berjualan bersebelahan.

“Mereka tidak tahu itu Wabup, terus pas beliau (Wabup-Red) masuk mobil dan saya ambil pesanan, baru mereka tanya siapa orang itu, baru mereka tahu,” sambungnya sambil sedikit tersenyum mengenang momen itu.

Selain kisah kedermawanan Pathul, Husni membeberkan jika dia tidak pernah sekalipun mendengar Pathul mengeluh kecapean.

“Selama saya jadi sopir beliau, tidak pernah sekalipun saya dengar beliau mengeluh. Malah kadang kami heran, apa orang ini tidak pernah merasa capek apa bagaimana, malah kami yang kecapean,” katanya diiringi sedikit gelak tawa.

Husni mengatakan, jika dia dan ajudan bertanya tentang aktivitas yang sepertinya tiada henti itu, Pathul biasanya akan menjawab bahwa itu adalah sumpah jabatan yang harus ia jalankan.

Sehingga, tidak ada kata capek dan mengeluh ketika hal itu berhubungan dengan kepentingan masyarakat. (03)

2 komentar:

  1. Bagus beritanya. Alurnya mantab. Salut sama (03)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmmmmm, kan Abi Fadli gurunya......Jadi rindu dinda...

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.