Piye

BPOM Jamin Tablet PCC Tak Ada Di NTB

BPOM Jamin Tablet PCC Tak Ada Di NTB
SuaraLombok.com | Mataram - Maraknya pemberitaan terkait jatuhnya sejumlah korban di sejumlah daerah setelah mengonsumsi tablet yang mencantumkan tulisan "PCC" beberapa waktu lalu cukup meresahkan, tak terkecuali masyarakat NTB.

Kepala BPOM Mataram, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (19/9) menyatakan sudah melakukan koordinasi dengan Polda NTB untuk melakukan pengawasan terhadap peredaran obat-obat ilegal, dan melakukan penindakan apabila ditemukan kasus.

Meski di NTB sendiri belum ditemukan indikasi adanya peredaran PCC, namun pihak BPOM bersama dengan instansi-instansi terkait sudah melakukan beberapa langkah untuk mencegah adanya peredaran obat ilegal yang cukup membahayakan tersebut.

"Kami dan Polda sudah koordinasi. Jadi untuk produk ilegal secara rutin sudah dilakukan pengawasan dan penindakan, terutama di NTB kan tramadol yang beredar dan disalahgunakan. Terkait isu tablet PCC, untuk NTB selama pengamatan kami sampai sejauh ini belum ditemukan PCC tersebut", ungkapnya kepada Suara Lombok.

Nengah Suarningsih menjelaskan bahwa PCC yang beredar secara ilegal berdasarkan hasil uji laboratorium memiliki dua jenis. Pertama PCC dengan kandungan Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol, kedua jenis kandungan PCC dan Tramadol.

Efek sedatif pada Carisoprodol yang terdapat dalam pil PCC ini sendiri dapat menyebabkan kecanduan. Itulah sebabnya penggunaannya membutuhkan pengawasan ketat oleh doktor.

Sejak tahun 2013, sambung Nengah Suarningsih, peredaran obat dengan kandungan Carisoprodol sudah dilarang BPOM karena banyak penyalahgunaan. Meski sebelumnya sudah mengantongi izin, namun kini izin obat dengan kandungam Carisoprosol telah dicabut dan dilarang peredarannya di Indonesia.

"Carisoprodol sendiri sudah dilarang beredar, jadi yang beredar itu ilegal gak ada ijin edar dari BPOM. Untuk itu penanganannya BPOM tidak sendiri namun bersama aparat penegak hukum", tandasnya.

Mewaspadai terjadinya peredaran obat ilegal, Nengah Suarningsih mengaku BPOM secara rutin melakukan pengawasan dan pembinaan dengan melakukan survei ke lokasi terkait untuk hal ini puskesmas, rumah sakit dan apotik-apotik yang ada. “Kami selalu atensi mengawasi,” pungkasnya. (cr-04)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.