Piye

Warga Bunbeleng Terisolir, Pemda Seakan Tutup Mata

SuaraLombok.com | Lombok Barat - Ribuan warga Dusun Bunbeleng Desa Sekotong Timur dan Dusun Tibu Lilin Desa Labuan Tereng serta sejumlah dusun lain di Kecamatan Lembar hidup terisolir diatas bukit.

Mereka hidup ditengah kondisi fasilitas dasar yang begitu minim. Kondisi jalan rusak parah, air susah didapat.

Begitu pula fasilitas pendidikan, hanya ada sekolah non formal dan Sekolah Satu Atap (Satap) yang ada di wilayah setempat.

Mirisnya, ribuan warga yang berdomisili di daerah itu tak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak sehingga untuk memperoleh pelayanan mesti turun ke kota dengan jarak 4-6 kilometer lebih.

Bahkan warga yang sakit parah dan melahirkan digotong menggunakan peralatan seadanya melalui jalur terjal berbatu.

Menyadari berat dan sulitnya hidup di daerah terisolir, ribuan warga setempat pun tergerak untuk berupaya “membebaskan diri” keluar dari belenggu daerah terisolir secara swadaya.

Dengan bantuan dari pihak Sanggar Belajar Rumah Cerdas Lembar sebagai motor penggerak bersama sejumlah wartawan di Lobar, warga pun memulai membuka akses jalan tanah sepanjang 2,5 kilometer menghubungkan tiga dusun dan desa masing-masing Dusun Bunbeleng Desa Sekotong Timur, Dusun Gerepekan Desa Jembatan Gantung dan Dusun Tibu Lilin Desa Labuan Tereng.

 
Ratusan warga bergotong-royong memulai pembukaan akses jalan tanah tersebut, warga dibantu alat berat yang disediakan oleh pihak Rumah Cerdas.

Sebelum memulai gotong-royong, warga bersama Ketua Sanggar Belajar Evi Febriana M.Pd, Kepala Dusun Bun Beleng Mustain, Kadus Tibu Lilin, Nurhasan serta wartawan mengadakan prosesi sasak “Bangaran”.

Tujuannya untuk meminta do’a memperlancar kegiatan pembukaan jalan tersebut.

Kepala Dusun Bun Beleng, Mustain menuturkan bahwa 500 jiwa masyarakatnya hidup ditengah keterbatasan fasilitas dasar. “Air susah, jalan rusak lengkap sudah disini. Karena itulah warga kami berupaya berswadaya membangun jalan. Alhamdulillah kami dibantu rumah cerdas dan teman-teman wartawan,” katanya.

Berangkat dari kondisi di Dusunnya itulah, ia bersama warga tergerak untuk berupaya secara swadaya mengatasi sejumlah persoalan yang membelit.

Salah satu yang dirasa kendala terberat adalah akses jalan rusak. Karena jalan rusak tersebut, warga susah untuk beraktivitas baik mengangkut hasil pertanian, anak-anak sulit ke sekolah.

Susahnya lagi kalau ada warga melahirkan. Bahkan ada dua warga meninggal karena digotong ketika hendak melahirkan melalui akses jalan yang tak layak tersebut.  

Ia mengaku telah mengupayakan pembukaan jalan ini sejak setahun lalu dengan meminta bantuan pihak Rumah Cerdas yang perduli terhadap warga terpencil.

Perjuangan warga ini jelasnya tidak mudah, karena butuh waktu setahun akses jalan ini bisa dibuka.

Ia berharap dengan dibukanya akses jalan ini, bisa mempermudah warga untuk melakukan aktivitas baik bertani, berjualan dan anak-anak bisa mudah ke sekolah.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pihak rumah cerdas dan rekan-rekan wartawan yang telah membantu kami membuka akses jalan ini,” jelas Mustain.

Sementara itu Kadus Tibu Lilin, Nurhasan menyatakan di dusunnya ada 400 jiwa yang sulit mengakses air.

Sedangkan akses jalan menuju dusun setempat tidak separah di dusun Bun Beleng, karena ada beberapa titik jalan sudah dirabat.

Namun diakui, akses jalan masih menjadi kendala utama bagi warga setempat.

“Jadi pembukaan jalan ini dusun kami kena imbasnya,” kata Kadus Tibu Lilin, Nurhasan.

Menurut Nurhasan, tidak ada alasan warga di atas bukit tidak diperhatikan oleh pemda. Sebab bagaimanapun mereka punya yang sama dengan warga lain yang tinggal di kota. 

Ketua Sanggar Belajar Rumah Cerdas Evi Febriana, M.Pd  menyatakan bahwa pembukaan jalan ini adalah langkah awal untuk memubuka daerah ini dari terisolir, sebab setelah akses jalan ini dibuka maka berbagai kebutuhan masyarakat setempat bisa dipenuhi.

Kedepan kata Evi, tidak putus sampai membuka jalan namun pihaknya akan terus memantau apalagi yang diperlukan masyarakat setempat.

“Sebab jika kalau sudah dibuka jalan, tidak saja bantuan dari rumah cerdas dan wartawan namun pihak-pihak lain akan mudah memberikan bantuannya,” jelas Evi.

Ia menambahkan, pembukaan jalan ini tidak saja dari rumah cerdas dan wartawan namun juga pihak lain termasuk keterlibatan masyarakat. Yang paling penting jelasnya masyarakat ikut berswadaya.

Ia mengaku motivasi sehingga tergerak untuk membantu pembukaan akses jalan ini karena keperdulian terhadap warga terpencil dari segala aspek, pendidikan, kesehatan, air bersih.

Ia berharap dengan dibukanya akses jalan bisa mengatasi satu persoalan pokok yang dialami warga sehingga warga bisa mendapatkan “kemerdekaan” sesungguhnya dalam hidup. (05)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.