Piye

Mahasiswa Tuntut Pemerintah NTB Atasi Krisis Air Bima

Mahasiswa Tuntut Pemerintah NTB Atasi Krisis Air Bima
SuaraLombok.com | Mataram - Himpunan Mahasiswa Suku Donggo Mataram menuntut Pemerintah Provinsi NTB agar segera menuntaskan krisis air di Kabupaten Bima. Tuntutan ini disampaikan massa, saat aksi unjukrasa di perempatan BI Mataram pada Jumat (11/8).

Massa membeberkan kondisi real masyarakat di Kecamatan Donggo dan Soromandi Kabupaten Bima - NTB. Massa menyebut jika masyarakat disana sedang di landa krisis air bersih berkepanjangan. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, masyarakat harus rela berjalan kaki membawa jerigen dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

"Tiap-tiap desa serba kekurangan air. Bahkan, mereka mengambil di desa tetangga dengan jarak tempuh berjam-jam. " Ungkap massa.

Massa juga mempertanyakan upaya pemerintah NTB dalam mengatasi krisis air di Bima. Mengingat krisis air di sana sudah berulang sejak Indonesia merdeka hingga sekarang.

"Selama 72 tahun masyarakat Donggo mengambil air menggunakan jerigen. Apakah ini kemakmuran yang diberikan oleh pemerintah ?," heran massa.

Sehubungan dengan realita sosial tersebut, Himpunan Mahasiswa Suku Donggo Mataram menyatakan enam tuntutan, yakni :
1. Gubernur NTB segera mengatasi kebutuhan air untuk menunjang kelangsungan hidup masyarakat di Kecamatan Donggo & Soromandi Kabupaten Bima.

2. Gubernur NTB Segera memerintah Dinas terkait untuk mengambil langkah konkrit supaya kekeringan bisa teratasi secara permanen di Kecamatan Donggo & Soromandi Kabupaten Bima.

3. Mendesak Gubernur NTB Mengalokasikan Anggaran Penanganan Krisis Air pada APBD-P 2017 dan APBD 2018.
 
4. Gubernur NTB harus bertanggung jawab atas krisis air yang menimpa masyarakatnya.

5. DPRD NTB agar segera menindaklanjuti kekurangan air yang ada di Kecamatan Donggo & Soromandi Kabupaten Bima.

6. Mendesak DPRD Prov NTB Meloloskan Anggaran Penanganan Krisis Air pada APBD-P 2017 dan APBD 2018.

Setelah berorasi di perempatan BI Mataram, massa selanjutnya menuju Kantor DPRD Provinsi NTB untuk menyampaikan aspirasi serupa.

Setelah lama berorasi, perwakilan massa selanjutnya di terima ketua DPRD NTB, Hj. Isvie Rupaida. Dalam tanggapanya Isvie menyampaikan bahwa DPRD NTB telah serius mengatasi krisis air di wilayah NTB.

Sebagai bukti keseriusan, DPRD NTB bakal membuat perda yang mengatur penyelesaian krisis air. Saat ini masih dalam proses, dan diagendakan bisa realisasi pada tahun 2018. Sedangkan untuk wilayah Donggo dan Soromandi, DPRD NTB juga sudah melakukan komunikasi dengan Dinas Pertambangan dan Energi NTB untuk segera membuat sumur bor.

"Komisi IV punya gagasan perda percepatan untuk persoalan air di seluruh NTB, Insya Allah 2018 perda nya sudah ada, Selain itu, kita juga sudah komunikasi dengan Dinas Pertambangan agar dibuatkan sumur bor," ungkap Isvie.

Setelah puas mendapatkan jawaban dari pihak legislatif NTB, massa kemudian melanjutkan aksi ke depan kantor Gubernur NTB di jalan Pejanggik Mataram.

Setelah sampai di lokasi, massa kemudian menyampaikan orasi serupa secara bergantian. Hanya saja, mulai awal hingga aksi selesai, tidak ada satupun pejabat Pemprov. NTB yang bersedia menemui massa.

Massa menganggap pejabat di teras Pemprov. NTB tutup mata dan tutup telinga dengan krisis air di Kecamatan Donggo dan Soromandi Bima.

"Pemprov NTB tidak mau menemui mereka tutup mata tutup telinga," seru massa di sela - sela unjukrasa.

Meski kecewa karena tidak ada satupun pejabat yang menemui, massa tetap menegaskan agar pemerintah provinsi NTB cepat mengatasi krisis air di Kabupaten Bima, baru kemudian membubarkan diri. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.