Piye

Limbah PLTU Jeranjang Tidak Kunjung Dimusnahkan

Limbah PLTU Jeranjang Tidak Kunjung Dimusnahkan
SuaraLombok.com | Mataram - Limbah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) milik PLTU Jeranjang terlalu lama tersimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS).

Terhitung sejak tahun 2015, limbah B3 PLTU Jeranjang tak kunjung dimusnahkan. Jika mengacu kepada PP 101 tahun 2014, masa simpan hanya berlaku maksimal 365 hari. Jika dibiarkan terlalu lama, dikhawatirkan Limbah B3 PLTU Jeranjang berdampak terhadap kelestarian mahluk hidup maupun lingkungan sekitar.

Pantauan Suara Lombok, TPS Limbah B3 PLTU Jeranjang di pagar beton mengelilingi area. Selain plang sumur pantau, TPS yang berlokasi di Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat ini juga memiliki plang izin bernomor 42.A/660/BLH/2015 yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Lobar. 

Saat dikonfirmasi Suara Lombok, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTB Madani Mukarom bersama Seksi Pengelolaan Limbah B3, Ida Bagus Suta Wijaya membenarkan jika hingga saat ini limbah B3 PLTU Jeranjang masih tersimpan di TPS setempat.

Di TPS tersebut, terdapat dua jenis limbah B3 utama yang dihasilkan dari sisa pembakaran batu bara PLTU Jeranjang. Dua jenis limbah ini bernama fly ash dan bottom ash.

Sesuai dengan PP 101 Tahun 2014, yang dimaksud dengan Bahan Berbahaya dan Beracun atau disingkat B3 adalah bahan yang karena sifatnya dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Menurut mereka, menyimpan limbah B3 di TPS itu tidak melanggar aturan. Meskipun PP 101 Tahun 2014 telah diatur batas masa simpan maksimal 365 hari, namun izin untuk batas masa simpan tersebut boleh di perpanjang.

"Sekarang kondisinya memang masih di sana, fly ash hasil pembakaran dari batubara itu tercantum di lampiran, menyimpan (Limbah B3-red) itu ndak salah, memang di aturan PP 101 tahun 2014 itu maksimal 365 hari, tapi seandainya itupun di perpanjang nggak papa karena sementara ini untuk fly ash dan bottom ash pengolahannya semua di Jawa," ujarnya.

Sementara itu Deputi Manager Hukum dan Humas PLN NTB, Fitriah Adriana bersama Humas, Kukuh juga membenarkan Limbah B3 PLTU Jeranjang masih berada di TPS di Taman Ayu. Namun begitu, PLN NTB berupaya melakukan tahapan sebagaimana yang telah diatur dalam PP nomor 101 tahun 2014.

Menurut mereka, dalam PP Nomor 101 tahun 2014 diperbolehkan untuk menyimpan Limbah B3. Selain itu, PLN NTB juga sudah berusaha untuk mengadakan lelang agar Limbah B3 bisa diangkut untuk di musnahkan.

"Jangka waktu penyimpanan itu memang benar 365 hari tapi masih bisa diperpanjang, dan selama ini PLN NTB selalu mengajukan permohonan perpanjangan untuk penampungan sementara," ungkapnya.

Mereka mengakui jika PP Nomor 101 tahun 2014 telah menyatakan bahwa fly ash dan bottom ash masuk dalam kategori limbah B3. Hanya saja menurut kajian internal, PLN NTB tidak menemukan adanya zat membahayakan dalam sisa pembakaran batu bara. Bahkan jika di kelola dengan benar, sisa pembakaran batu bara ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan seperti campuran batako.

"Secara undang-undang hasil pembakaran batu bara itu masuk kategori B3, tapi kami melakukan penelitian itu tidak berbahaya, sudah ada hasilnya penelitian malah bisa jadi barang berguna lainnya seperti batako," bebernya.

Meskipun berdasarkan hasil kajian internal sudah dinyatakan bahwa fly dan bottom ash tidak mengandung zat berbahaya, namun PLN NTB tetap mengkuti aturan untuk melakukan pemusnahan.

"Karena dalam undang-undang dia masuk dalam kategori B3, Kami PLN harus memperlakukan sebagai B3," pungkas mereka. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.