Piye

Kisah Nenek Riasih, Si Renta yang Masih Mencari Makna Kemerdekaan

Kisah Nenek Riasih, Si Renta yang Masih Mencari Makna Kemerdekaan
SuaraLombok.com | Mataram - Tak terasa, sudah dua hari perayaan hari bersejarah Indonesia terlewat.

Di hari kemerdekaan Indonesia yang sudah 72 tahun, Nenek Riasih, justru masih mempertanyakan arti kemerdekaan itu.

Nenek renta yang sudah memasuki usia kepala tujuh ini tampak berjalan tidak normal karena sempat tertabrak mobil saat membawa sapu lidi untuk dijajakan.

Meski dengan kondisinya itu, semangatnya mencari sesuap nasi dengan menjual sapu lidi tetap dilakoni.

Barangkali, ketika sudah mendapat uang dari hasil penjualan itu, dia akan merasa merdeka dalam kemeriahan perayaan HUT kemerdekaan RI.

Ia biasa menjajakan sapu lidi yang ia buat sendiri di Perempatan Lampu Merah di samping Pendopo Gubernur NTB. Kegiatan berjualan sapu lidi sudah ia geluti selama dua tahun.

Nenek asal Dusun Gegerung, Desa Ketapang, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat itu mengaku berjualan sapu lidi karena tidak mau meminta belas kasihan dari orang lain. Apalagi sampai mengemis.

Setiap hari ia bisa membawa pulang jualannya karena terkadang meski sehari penuh ia menunggu pembeli, namun tak satupun yang datang menghampirinya.

"Kadang laku kadang tidak,” ceritanya pada Suara Lombok.

Meski hasil dari berjualan sapu lidi tidak banyak, namun nenek Riasih tetap menyisihkan hasil keuntungannya berjualan untuk di sumbangkan ke Masjid.

Semenjak ditinggal mati suaminya tiga bulan yang lalu, nenek Riasih mengaku saat ini dirinya tinggal bersama dengan seorang anaknya yang bekerja sebagai buruh lepas. (cr-04)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.