Piye

Ziarah Makam: Titik Awal Lebaran Nine

Ziarah Makam: Titik Awal Lebaran Nine
SuaraLombok.com | Lombok Barat - Prosesi Lebaran Nine Kabupaten Lombok Barat (Lobar), diakui memang kaya dengan aneka seni budaya dan tradisi. Kekayaan ini, sekaligus sebagai modal untuk memperkaya pendapatan di sektor pariwisata. Salah satu budaya dan tradisi yang dimiliki adalah Ziarah Makam. Minggu (2/7) masyarakat dari seluruh penjuru pulau Lombok, tumpah ruah hanya untuk melakukan prosesi “nazar” di Makam Batu Layar, kecamatan Batu Layar.

Ziarah makam, atau berwisata ke tempat-tempat suci, merupakan suatu bentuk perjalanan khusus unik dan menarik. Tidak jarang, wisata yang satu ini sering disebut wisata pylgrim atau wisata ziarah. Di Lobar, ziarah makam ini merupakan perpaduan dan rangkaian dari prosesi Lebaran Syawal. Masyarakat setempat menyebutnya lebaran mame (lebaran laki). Sepekan setelah kegiatan Lebaran Mame ini, dilanjutkan dengan prosesi kegiatan Lebaran Nine (Lebaran Wanita).

Salah satu prosesi utama dari kegiatan Lebaran Nine ini, masyarakat berbondong-bondong mengunnjungi Makam batu Layar. Tua-muda, laki-perempuan, anak-anak hingga remaja, motivasi mereka bermacam-macam. Ada yang sekedar datang berdoa, memohon kepada Allah SWT. agar kehidupan berkeluarga menjadi keluarga Samawa (sakinah, mawaddah dan warahmah). Ada pula yang memohon petunjuk agar segera naik pangkat dalam jabatan, memohon segera mendapat jodoh, diselamatkan usaha bisnis serta diselamatkan perjalanan selama prosesi naik haji.

Ziarah Makam dalam prosesi Lebaran Nine ini, pemerintah kabupaten Lobar melalui Dinas Pariwisata menggelarnya dengan kegiatan yang cukup sederhana. Sebagaimana tradisi yang sudah turun temurun,Bupati Lobar H.Fauzan Khalid bersama rombongan, diarak menggunakan cidomo (angkutan tradisional semacam andong) menuju Makam. Uniknya, cidomo ini dihias dengan aksesoris dari anyaman daun kelapa.

Dengan berjalan beriringan, parade rombongan cidomo tiba di Makam. Mereka disambut dengan lanunan ayat-ayat suci Al-quran. Biasanya lantunan salawat Nabi yang diiringi dengan bunyi-bunyian semacam rebana, berkumandangmenyambut kedatangan pimpinan pemerintah mereka.

Sebagai klimaks dari acara ziarah makam ini, seorang Tuan Guru (Kiai) berkenan memimpin jalannya acara ziarah. Diawali dengan bacaan-bacaan barzanji, zikir dan doa. Sebagai penutup, bupati diperkenankan ‘seraup’ (cuci muka) dengan air yang sudah disiapkan. Konon katanya, air ini diambil dari Sumur Mas yang lokasinya tidak jauh dari makam. Seorang pemandu menyodorkan kendi berisi air. Secara bergantian, seluruh rombongan turut melakukan hal yang sama. Sembari melakukan seraup, dibarengi dengan niat dan nazar yang dikehendaki. Dalam prosesi ziarah makam ini, melalui pemandu, seluruh rombongan bernazar, bupati periode berikutnya, tetap dipimpin oleh H. Fauzan Khalid.

Seraup atau cuci muka ini, secara filosofi, air merupakan alat mensucikan atau membinasakan. Sang Juru kunci Makam Batu Layar mengibaratkan, jika ada kebakaran, maka segeralah disirami air agar tidak ada korban di dalamnya. “Jika ada noda atau salah dalam kehidupan sehari-hari, maka segeralah bernazar untuk mensucikan diri,” katanya. (05)

Baca juga :
Cuti Panjang, Sesaot Sesak 
Pesta Pantai Dijaga Ketat 
Lebaran Topat, RAPI Mataram Terjunkan Ratusan Orang 
Lebaran Topat Persembahan Untuk Pariwisata 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.