Piye

TGB Ajak Tokoh Lintas Agama Di Mimika Lihat Indonesia Dari Dua Sisi

TGB Ajak Tokoh Lintas Agama Di Mimika Lihat Indonesia Dari Dua Sisi
SuaraLombok.com | Mataram - Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi diundang oleh MUI dan FKUB Kabupaten Mimika Papua menghadiri acara Dialog dengan Pemerintah Daerah dan Para Tokoh Lintas Agama.

Pada acara yang dihadiri Bupati diwakili Asisten I dan Ketua DPRD Mimika, Kakantor Kementrian Agama dan para tokoh lintas Agama tersebut, TGB sapaan Gubernur yang juga Hafiz Al-Qur'an itu mengajak semua peserta dialog untuk melihat Indonesia dari dua sisi.

Pertama, harus diyakini bahwa Indonesia dengan segala keberagaman dan kekayaannya adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, dari sisi yang lain harus  diingat pula bahwa Indonesia adalah akumulasi dari hasil perjuangan panjang seluruh anak bangsa. Dari perspektif tersebut, maka menurutnya kewajiban kita bukan sekedar hanya mensyukurinya tapi juga merawat dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Bupati Mimika diwakili Asisten satu dalam sambutannya menyebut Gubernur TGB sebagai tokoh muda, tokoh bangsa dan tokoh pejuang dari NTB. Dia mengistilahkan pertemuan tersebut sebagai nikmat dari Tuhan yang harus disyukuri.

Dijelaskannya bahwa "Visi dari pemerintah Kabupaten Timika adalah Membangun Timika yang aman, damai dan sejahtera" ucapnya. Ia mengungkapkan masyarakat Mimika dari berbagai etnis dengan perbedaan nilai-nilai yg dimiliki adalah kekuatan dalam membangun timika. Toleransi umat beragama di Mimika sangat terjaga dari sejak kabupaten tersebut dibentuk tahun 1996 hingga saat ini, terangnya.

Menanggapi Sambutan hangat tersebut, Gubernur TGB mengajak masyarakat mimika untuk terus memupuk dan merawat semangat persaudaraan dan toleransi di Tanah Papua yang sudah sangat baik. Kita juga perlu banyak  belajar dan melihat dari  kondisi beberapa negara lain yang dulunya bersatu dan kuat, kini justeru menjadi terpecah pecah. Karena mereka tidak bisa merawat pebedaan dalam kebersamaan, ujarnya.

Menurut TGB keberagaman dalam pandangan agama adalah sunatullah. Menentang keberagaman berarti menentang sunatullah, ujarnya. Artinya ketika kita ditakdirkan hidup ditempat yang sama dalam keberagaman adalah kehendak dari Tuhan. Jadi tugas besar untuk menjaga dan merawat Republik ini adalah tugas seluruh umat beragama, tanpa kecuali, tegasnya.

Hal itu menurut Alumnus terbaik Kairo Mesir tersebut, harus diwujudkan dalam satu kata "Toleransi" yakni sikap dan hati yang ikhlas menerima perbedaan.

Di NTB walaupun mayoritas penduduknya beragama muslim namun tidak ada hal yang merusak keharmonisan dalam interaksi dengan umat lain. Kuncinya, kata TGB adalah terus bersama mencari persamaan-persamaan. Interaksi kita diruang publik adalah lebih banyak membicarakan petsanaan dan  perbedaan tidak dimunculkan  ke ruang publik. "Perbedaan jangan diperdebatkan, apalagi dibawa keranah publik," ungkapnya. (01) 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.