Piye

Kisah Kesakralan Kain Songket Umbaq yang Dipotong di Festival Begawe Jelo Nyesek

Kisah Kesakralan Kain Songket Umbaq yang Dipotong di Festival Begawe Jelo Nyesek
SuaraLombok.com | Lombok Tengah - Festival Begawe Jelo Nyesek yang tahun ke dua dibuka dengan pemotongan kain Songket Umbaq.

Pemotongan kali ini dilakukan oleh Dirjen IKM Kemenpar, Gati Wibawa Ningsih untuk kain Umbaq Mame dan Sekda Loteng, HM Nursiah untuk kain Umbaq Nine.

Tetapi yang lebih menyita perhatian adalah kisah kesakralan dua kain yang konon menjadi kain songket pertama di Gumi Sasak ini.

Dikisahkan Kades Sukarara, Timan sebagai penerima kehormatan Umbaq Mame, kain ini memiliki nilai filosofi kehidupan yang tidak didapat di pendidikan formal manapun di dunia.

Dimulai sejak 262 tahun lalu ketika Desa Sukarara mulai terbentuk. Dikisahkan masyarakat Sukarara adalah masyarakat yang lebih maju dari masyarakat lainnya di Gumi Tastura.

Sebab, ketika masyarakat lainnya masih berpakaian dan menutup aurat mereka dengan pelepah daun pisang, masyarakat Sukarara sudah berinisiatif untuk membuat penutup badan dengan cara menenun.

Cara pembuatannya juga tidak sembarangan. Kain yang bermakna kain untuk menggendong ini tidak dibuat dari benang yang sudah jadi, melainkan harus melalui proses pemintalan manual.

Bahkan, perhitungan hari untuk menganai benang sudah ditentukan yaitu hari Rabu atau hari Sabtu.

“Kalau mengenai benang hari Rabu, maka proses menenun harus dimulai hari Sabtu atau sebaliknya, tidak boleh hari lain,” penuturan Timan selaku Kades Sukarara terhadap kesakralan kain ini.

Tidak hanya penentuan hari, ritual khusus sebelum proses anai benang dan prosesi menenun kain Umbaq tetap harus dilaksanakan.

Termasuk membakar kemenyan yang bermakna penghormatan kepada leluhur tetap dilakukan.

“Pembuatannya saja maksimal tiga hari, tidak boleh lebih,” lanjut dia.

Selain ritual dan aturan prosesi pembuatan yang sangat ketat, penenun yang boleh membuat kain Umbaq ini pun tidak sembarangan.

Penenun yang boleh membuat kain Umbaq ini adalah perempuan yang sudah sepuh dan dipastikan tidak mengalami masa subur atau menstruasi lagi.

Jika tidak, konon katanya leluhur akan marah dan akan terjadi bencana yang akan melanda Desa Sukarara baik berupa penyakit langka ataupun bencana alam.

Terlepas dari kisah kesakralan uain Umbaq, nilai filosofi yang bisa diambil dari pembuatan ini juga menarik untuk disimak.

Menurut Timan yang sekaligus sebagai pemangku yang dipercaya menjaga kain sakral ini, pembuatan kain Umbaq memiliki makna tersendiri.

Pertama, Umbaq sendiri bermakna menggendong yang biasa dilakukan oleh Ibu tetapi tidak jarang dilakukan oleh ayah. Sehingga kain ini sendiri dibuat dua jenis, yaitu Umbaq Mame yang berarti laki-laki dan Umbaq Nine yang berarti perempuan.

Kain Uumbaq Mame sendiri biasanya dijaga oleh pimpinan desa, dalam hal ini Kepala Desa. Hal itu memiliki makna bahwa pemimpin harus menjaga, mengayomi dan memperhatikan masyarakatnya.

Sementara Umbaq Nine biasanya diberikan dan dijaga oleh pihak legislatif desa dalam hal ini BPD dengan maksud untuk saling memperingatkan pemimpin apabila mereka melakukan kesalahan.

Termasuk siap menjadi pengganti dan mencari pengganti ketika pemimpin sudah tidak bisa lagi melaksanakan kewajibannya terhadap masyarakat untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya.

“Termasuk filosifi motif di dua kain ini, melambangkan kesederhanaan dengan tidak banyak corak, persatuan dan kesatuan serta menunjukan asal muasal manusia dengan menampilkan tiga warna, merah, hitam dan putih,” tutup Timan. (03)

Baca juga :

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.