Piye

Dewan Desak PGRI Batalkan Pemotongan Gaji 13 Guru

Dewan Desak PGRI Batalkan Pemotongan Gaji 13 Guru
SuaraLombok.com | Lombok Tengah - Isu akan dipotongnya gaji 13 guru Loteng mendapat atensi khusus DPRD Loteng.

Ketua Komisi IV DPRD Loteng, Lalu Supriadi mengatakan, PGRI sudah bertindak di luar batas terhadap anggota dengan mengeluarkan surat edaran terkait pemotongan gaji 13 guru ini.

“Apapun alasannya, pemotongan itu seharusnya tidak dilakukan,” tegasnya.

Ia mengatakan, meskipun surat edaran yang dikeluarkan PGRI itu berdasar kesepakatan rapat bersama ketua PGRI kecamatan, bukan berarti hal itu lepas dari isu pungutan liar.

Sebab, beberapa unsur pungutan liar bisa saja masuk dalam surat edaran dimaksud, seperti jumlah yang sudah ditentukan sekitar Rp. 258 ribu dan waktu yang sudah ditentukan yaitu pasca gaji 13 dicairkan.

“Sebaiknya PGRI batalkan rencana itu,” imbaunya.

Ia mengaku miris dengan sikap PGRI. Sebab, lanjut dia, gaji 13 guru sebenarnya dihajatkan untuk membantu guru meringankan beban ketika ada kebutuhan menjelang PPDB atau lainnya.

“Berapa sih gaji guru, saya yakin masih sangat kurang kalau dibanding kebutuhan mereka. Belum bayar hutang, biaya anak masuk sekolah, kuliah dan kebutuhan lain, malah mau dipotong-potong,” kesalnya.

Lebih jauh, politisi PKB ini mengatakan, jika pungutan itu masih saja dilakukan oleh PGRI, maka pihaknya meminta kepada tim saber pungli yang saat ini diketuai Wabup Loteng, Lalu Pathul Bahri untuk segera mengambil sikap.

Saber pungli harus segera melakukan kroscek dan melakukan antisipasi jangan sampai praktik pungli itu dilakukan apalagi dengan terorganisir.

“Kalau menurut saya, ini menandakan budaya pungli masih saja terjadi di daerah kita,” sambungnya tegas.

Ditanya alasan PGRI melakukan pungutan dengan alasan untuk sumbangan pembangunan gedung, Supriadi malah menjawab sinis.

Ia mengatakan, gedung PGRI yang disebut-sebut sebagai alasan pungutan sebenarnya sudah lama dibangun dan sudah memakan biaya besar.

Bahkan, menurut informasi yang ia peroleh, semua guru di Loteng sudah menyumbang untuk pembangunan gedung ini sejak lama.

“Tapi kok belum rampung-rampung juga, padahal guru sudah lama menyumbang untuk pembangunan gedung ini,” herannya.

Ia mengimbau PGRI agar mencari jalan lain guna menyelesaikan pembangunan gedung dan tidak membebani guru kembali.

Baca juga :


“Kasihan guru kalau gaji mereka dipotong, bisa kok diselesaikan (pembangunan gedung-Red) dengan jalan lain, Insya Allah,” tandasnya. (03)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.