Piye

Fenomena Belanja Lebaran, Kemacetan Tidak Terhindarkan

Fenomena Belanja Lebaran, Kemacetan Tidak Terhindarkan
SuaraLombok.com | Lombok - Fenomena warga menyerbu pusat perbelanjaan menjelang akhir Ramadhan mulai tampak di beberapa tempat.

Tim Suara Lombok memantau, fenomena ini muncul di beberapa pusat perbelanjaan di Pulau Lombok terutama di pertokoan seputar Kota.

Bahkan tidak jarang, ada beberapa pedagang yang justru memanfaatkan ruas jalan sebagai tempat berjualan sehingga menyebabkan kemacetan.

Pantauan tim Suara Lombok di ruas jalan TGH. Ibrahim Al-Khalidy Kecamatan Kediri Lombok Barat, pedagang menggelar dagangannya sehingga sempat menyebabkan kemacetan.

“Daripada kami tidak dapat untung banyak, ikut teman yang lain aja kayak gini, kami juga gak punya toko,” ujar salah satu pedagang yang mengaku bernama Harisandi dengan enteng.

Ditanya tentang kemacetan yang diakibatkan karena lokasi berjualan yang tidak representatif, Harisandi hanya tersenyum kecut.

“Bukan saya saja yang jualan di sini, yang lain banyak,” sambungnya masih dengan nada yang sama.

Kemacetan sepanjang 1 kilometer di ruas jalan ini juga sulit diurai petugas kepolisian setempat meski tetap ada yang berjaga.

Pantauan Suara Lombok, beberapa aparat kepolisian hanya mencoba mengurai kemacetan dengan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi keributan tanpa bisa menggeser lokasi berjualan para pedagang.

Sementara itu, di Lombok Tengah, wartawan Suara Lombok mendapati sejumlah pertokoan diserbu para pembeli. Yang tampak padat pengunjung adalah kompleks pertokoan terminal lama.

Meski di beberapa titik ada pedagang pakaian yang tidak bertempat di toko, tetapi tidak menyebabkan kemacetan panjang. Hal itu disebabkan para pedagang berjualan di area eks pasar buah Praya yang sebelumnya sempat digusur oleh Sat Pol PP.

“Di sini saja sudah cukup untung, kalau kami geser ke jalan takutnya nanti malah diusir petugas,” ungkap Sumiatun, pedagang pakaian musiman yang ditemui Suara Lombok.

Terkait keuntungan, Hj. Mulia, pedagang lainnya mengatakan omzetnya bertambah dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.

“Barangkali trend pakaian saja yang berubah, dulu baju muslim biasa, tahun ini untuk perempuan lebih ke baju jenis gamis, itu buat untung kami lebih besar," akunya. (Team)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.