Piye

Dialog Membumikan Pancasila di Lobar

Dialog Membumikan Pancasila di Lobar
SuaraLombok.com | Lombok Barat - Kalangan mahasiswa menghadiri dialog bertema membumikan Pancasila harmonisasi politik kebhinekaan dan keagamaan di lingkup kantor Bupati Lombok Barat. Dalam dialog ini hadir narasumber, diantaranya anggota DPRD NTB TGH Khudari dan Kabid Wasbang Badan Kesbangpol Lobar Drs. Alwi.

Drs. Alwi menyampaikan sambutan mewakili Bupati Lobar. Ia menyampaikan, kebhinekaan atau keragaman, baik itu keragaman agama, budaya, etnis, adat istiadat, disamping menjadi potensi kemajuan pembangunan juga dapat menjadi potensi konflik antara suatu agama masyarakat bahkan bangsa-bangsa Dunia. Secara sosilogis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih. Salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik dalam masyarakat dapat dikategorikan dalam dua jenis yakni konflik Idiologi dan konflik Politik. Konfik Idiologi terjadi karena perbedaan idiologi dalam masyarakat. Contohnya, konflik idiologi dalam peristiwa G 30 S/PKI yang merupakan penolakan Bangsa Indonesia terhadap Idiologi Komunis. Sementara, konflik politik merupakan  pertentangan yang disebabkan perbedaan kepentingan dalam memperoleh kekuasaan atau merumuskan kebijakan Pemerintah. Contoh nyata konflik politik antara lain bentrok akibat proses pemilihan umum, bentrok menolak kebijakan pemerintah atau menuntut sesuatu. Untuk itu, setiap masalah yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat yang beragam harus segera diselesaikan sehingga tidak membawa akibat yang merugikan masyarakat.

Untuk itu, apabila nilai-nilai luhur Pancasila yang meliputi pengembangan sikap toleransi, kerjasama, persatuan, nasionalisme, humanisme, agama, dan lain-lain dapat diterapkan di Kabupaten Lobar, maka hal tersebut menjadi modal pembangunan untuk mewujudkan cita-cita pembangunan Kab. Lobar yang Unggul, Mandiri, Sejahtera dan Bermartabat yang dilandasi nilai Patuh, Patju. Keberagaman masyarakat di Kab. Lobar hendaknya dijadikan sebagai potensi untuk menjadi daya tarik orang lain atau daerah lain untuk datang ke Kab. Lobar.

Kabupaten Lobar memiliki keragaman budaya seperti Lebaran Topat, Perang Topat, Peresean, Nyonkolan, Wayang Kulit, dan lainnya. Semua itu bisa dijadikan sebagai potensi untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, peran Tokoh Agama, Ulama, Tokoh Masyarakat, dan unsur-unsur lainya diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat agar keberagaman dan kebhinekaan tidak tercemar oleh isu-isu SARA supaya suasana Kamtibmas dapat terjamin. Pihaknya berharap agar Kabupaten Lobar dapat bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. Kata Drs. Alwi.

Pemateri Anggota DPRD NTB, TGH. Khudori Ibrahim  Lc., MH menyampaikan materi terkait Reposisi Politik dan Agama Dalam Kebhinekaan Bangsa.

Disampaikan, kesepakatan kelompok pada saat Nabi Muhammad SAW yaitu membentuk kesepakatan yang disebut piagam madinah, bukan kesepakatan membentuk negara Islam. Mengganti dasar negara Pancasila dengan khilafah merupakan hal yang tidak akan pernah sesuai. Khilafah sendiri definisinya berbeda-beda sehingga ijtihad akan berkiblat ke banyak tempat. Sedangkan Pancasila merupakan hasil ijtihad pendahulu bangsa Indonesia.

Jaminan perbedaan itu disebutkan di dalam Al Quran. Agamaku ya agamaku amal ibadahku untuk agamaku, agamamu ya agamamu. Jangan di kritiskan, jangan dicampur aduk seperti separuh ajaran Hindu separuh ajaran Islam. Pihaknya menerima keragaman dan perbedaan sebagai fakta kehidupan di dunia. Pihaknya siap mengayomi keyakinan yang lainnya yang ada di Kab. Lobar. Ujarnya. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.