Piye

Trademark Gerabah Diakui Daerah, Warga Penujak Geram

Trademark Gerabah Diakui Daerah, Warga Penujak Geram
SuaraLombok.com | Lombok Tengah - Trademark produk warga Desa Penujak berupa kerajinan gerabah ternyata diserobot Bali.  "Kami seperti kerbau kehilangan nama, kami yang buat Bali yang diuntungkan," ungkap salah satu pebisnis gerabah, Gde Sirajudin alias Mamiq Rahme.

Menurutnya, hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain belum adanya perhatian pemerintah terhadap pengerajin gerabah di kawasan ini. Pemerintah dianggap apatis alias tidak terlalu peduli terhadap para pengerajin. Hal itu terbukti dari tidak digunakannya produk masyarakat Penujak di instansi pemerintahan.

"Ini sama saja mengubur pendapatan masyarakat kami, apalagi produk kami malah dikalim sebagai milik orang Bali, kami jadi sangat miris," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Penujak, Lalu Digjaye mengungkap, di Desa Penujak sendiri masih terdapat 6 titik pembuatan kerajinan gerabah. "Dari 6 titik ini, semuanya dikirim ke Bali dan diakui oleh mereka sebagai hasil buatan Bali," ungkapnya.

Digjaye mengungkapkan pembinaan kepada masyarakat masih sangat minim dari pemerintah. Padahal, sebelumnya sudah ada kerjasama antara pemerintah dengan Selandia Baru yang sempat mengangkat perekonomian masyarakat Penujak.

"Kami inginkan pembinaan dari pemerintah dan membukakan kami akses untuk ekspore hasil masyarakat kami keluar negeri agar tidak diserobot lagi oleh orang luar," harapnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Loteng, Majrun mengatakan, pihaknya akan menyampaikan keluhan warga ini ke pemerintah daerah. "Kita juga akan sampaikan terkait pasar seni agar dihidupkan kembali," janjinya pada saat melaksanakan reses tahap II masa sidang ke II di Desa Penujak.

Dia mengatakan, DPRD Loteng akan menjadikan persoalan ini sebagai atensi. Apalagi Penujak sebagai desa pintu gerbang bagi para wisatawan yang datang dari arah Bandara. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.