Piye

TGB Paparkan Nilai-Nilai Ke-Indonesiaan Kepada Tim UI

TGB Paparkan Nilai-Nilai Ke-Indonesiaan Kepada Tim UI
SuaraLombok.com | Mataram - Gubernur NTB, T.G.H M. Zainul Majdi menjadi salah satu dari empat Tokoh Nasional yang mendapat kunjungan Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonsesia untuk mengemukakan pandangannya tentang nilai - nilai Ke-Indonesiaan.

Wawancara Tim UI dengan Gubernur NTB dilaksanakan Selasa (16/5) di Ruang Kerja Gubernur NTB di Mataram, dipimpin Dr. Abdul Muta’ali, Apipudin, Juhdi Syarif, Aselih Asmawi. Pandangan para tokoh itu akan dituangkan kedalam suatu buku yang akan diterbitkan untuk menjadi inspirasi bagi seluruh anak bangsa dan merawat warisan nilai-nilai ke-Indonesian itu dengan dengan baik.

Keempat tokoh nasional itu adalah Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau TGB, Kemudian Ketua PP Muhamadiyah, Dr. H. Haedar Natsir, Ketua PBNU, KH. Said Agil Siraj dan Walikota Surakarta.

Wawancara berlangsung akrab, diawali dengan prolog dari Dr. Muta’ali bahwa Republik Indonesia mengakui 6 agama resmi, yang artinya Indonesia adalah negara yang berketuhanan, bukan sekuler. Namun bukan pula bangsa yang menjadikan agama tertentu sebagai ideologi, hukum dan sistem politik pemerintahan. Tim menanyakan pandangan gubernur terkait hal itu.

Dalam paparannya TGB menjelaskan perihal keberagaman nusantara adalah blessing atau karunia dari Tuhan Yang Esa, Allah SWT. Satu karunia dari Allah SWT yang meyebabkan kita terhindar dari banyak hal yang tidak baik dibandingkan negara-negara yang baru lahir.

Lebih jauh TGB juga menegaskan bahwa secara sosiologis, sejak awal para pendiri negara dalam membangun entitas bernegara sangat mengakui dan mengutamakan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam kehidupan bernegara. Meski tidak mengambil salah satu agama sebagai ideologi negara, akan tetapi nilai-nilai diwujudkan dalam bentuk konsensus dalam bernegara dan bermasyarakat, yaitu negara yang ber-Ketuhanan  yang Maha Esa yang diwujudkan dalam Pancasila sebagai dasar negara. Jadi menurut TGB para founding father sejak awal telah memiliki konsensus yang kuat, dengan mengutamakan kedewasaan dan semangat yang nyata untuk mencari titik temu dari keberagaman nusantara ini.

Dalam sesi selanjutnya TGB juga menjelaskan tentang pandangannya mengenai politik kebangsaan yang tersirat dan tersurat pada Pancasila dan UUD Negara RI. Jadi, khazanah tertulis bangsa yang paling tinggi, telah secara tegas dinyatakan di dalam landasan politik kebangsaan kita, Pancasila, yaitu nilai-nilai tertinggi dari agama. Menurutnya, agama harus tetap mewarnai dan menjiwai politik kebangsaan kita. Jadi TGB berpandangan bahwa nilai-nilai agama tidak bisa dipisahkan dari semua aktivitas masyarakat, termasuk dibidang politik. Bahkan nilai-nilai agama itu harus menjadi landasan dan menjiwai perilaku dalam aktivitas politik.

Infrastruktur negara, terdiri dari; Pancasila, UUD '45, dan NKRI kemudian ada Bhineka Tunggal Ika. Tetapi sebenarnya ditopang oleh suprastruktur yang ada nilai di bawah yang menjaga ini semua supaya tetap operasional. Menurut gubernur keempat nilai ini ditopang oleh ketuhanan, yaitu spritualitas kita. Sehingga kalau kita bicara Pancasila tetapi pondasi ketuhanan atau spritualitas itu tidak ada, ini sesuatu yang sulit juga.

Ditanyai Pandangannya tentang tafsir Pancasila, TGB menjelaskan bahwa Pancasila adalah konsep kemanusiaan yang berketuhanan. Tafsir ini berangkat dari landasan bahwa kemanusiaan itu merupakan satu-satunya ranah atau tempat menguji rasa ketuhanan. Sedangkan, Soekarno menafsirkan Pancasila kedalam Tri Sakti, Soeharto ke dalam P4, Gusdur kedalam Prularisme dan Jokowi Revolusi Mental.

Empat tokoh nasional yang dimintai wawancaranya tentang sejumlah prinsip kebangsaan itu adalah Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau TGB, Kemudian Ketua PP Muhamadiyah, Dr. H. Haedar Natsir, Ketua PB-NU, KH. Said Agil Siraj dan Walikota Surakarta. (02)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.