Piye

Diduga Sebar Ajaran Sesat, Wanita di Pringgarata Dikepung Warga

Diduga Sebar Ajaran Sesat, Wanita di Pringgarata Dikepung Warga
SuaraLombok.com | Lombok Tengah - Diduga menyebarkan ajaran sesat, seorang wanita inisial IM asal Desa Sintung Kecamatan Pringgarata diperkarakan warga.

"Dia mengajarkan ke kami kalau salat itu hanya wajib selama 3 hari, setelah itu tidak wajib," ujar H Musaddikin selaku salah satu mantan pengikut IM asal Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat.

Musaddikin memaparkan, awalnya ia mencari guru spiritual yang akan membimbingnya menuju jalan Ilahi pada tahun 2012 lalu. Setelah bertemu dengan IM, dia diminta membawa sejumlah persyaratan berupa beras yang ditaruh di dalam baskom putih baru disertai kain putih sepanjang 4 meter dan uang mahar Rp. 350 ribu.

"Setelah itu kami dimandikan dan disuruh salat selama 3 hari saja, setelah itu disilahkan tidak usah salat lagi," paparnya.

Tidak sampai disitu, Hj Husnul Khotimah selaku istri H Musaddikin ikut menambahkan jika dirinya disuruh solat tidak menghadap kiblat, melainkan menghadap kamarnya dan lebih spesifik menghadap ke arah IM.

"Kalaupun kami disuruh sholat, kami disuruh menghadap ke dia dan bukan ke arah kiblat," sambutnya.

Tidak hanya ajaran shalat yang dianggap menyimpang, ajaran puasa juga dianggap menyeleweng. Sebab, menurut ajaran IM yang diterima bersama suaminya, puasa dianggap tidak wajib.

"Dia bilang kalau masih pikirkan makanan kita dibolehkan tidak puasa," ungkapnya.

Dikatakan, ia dan suami tidak mempermasalahkan uang yang diserahkan ke IM, tetapi ajaran yang dianggap sesat itu dikhawatirkan merembet ke khalayak ramai dan menyesatkan banyak orang. Kepala Desa Sintung, Lalu Asrorudin yang memediasi warga dan IM beserta pengikutnya di Aula Kantor Desa Sintung mengaku, Pemdes sendiri baru mengetahui jika IM mengajarkan ajaran seperti itu di wilayah desanya.

"Kami tidak tahu kalau dia (IM) mengajarkan ajaran seperti itu, kami juga merasa terkejut," akunya.

Tetkait masalah ini, Pemdes sendiri akan menyerahkan urusan ke KUA Kecamatan dan MUI Kabupaten untuk menyelesaikan dan menetapkan apakah memang ajaran IM sesat atau tidak.

"Kalau urusan menetapkan apakah sesat dan menyesatkan itu wewenang MUI, yang penting saat ini tidak terjadi keributan di wilayah kami dulu," tegasnya.

Sementara itu, Kapolsek Pringgarata, AKP Sofyan mengatakan jika aduan tetkait masalah ini belum masuk ke meja aduan. Sehingga untuk sementara ini, pihaknya hanya akan melakukan penjagaan untuk kondusifitas kawasan seperti biasa.

"Kita sudah sarankan agar aktivitas pengajian atau apapun juga dihentikan sementara sampai ada fatwa MUI. Kita juga akan tetap pantau agar kondusifitas terjaga," katanya.

IM sendiri tidak mengakui jika ajaran yang diajarkan kepada jamaahnya seperti yang dituduhkan. Ia mengatakan ajarannya merupakan ajaran yang berlandaskan ajaran Islam tetapu memiliki level yang lebih tinggi.

"Saya tidak pernah melarang orang shalat atau puasa, saya hanya sampaikan kalau ibadah itu harua dijalankan sesuai kemampuan dan keikhlasan dan tidak ada gunanya kalau tidak dilandasi rasa ikhlas," kilahnya.

Terkait tata cara dan mahar yang harus diserahkan oleh calon jamaah, ia berkilah jika hal itu sebenarnya tidak ada unsur paksaan. Ia mengatakan, mahar yang diserahkan sesuai kemampuan dan keikhlasan si calon jamaah pengajiannya.

"Kalau namanya ikhlas ya silakan, itu yang saya sampaikan," ucapnya.

Sementara itu, penghulu KUA Kecamatan Pringgarata, Nasrullah tidak berani menyatakan kalau ajaran IM sesat. Hanya saja, dalam kajiannya dari 10 kriteria sesat dan menyesatkan yang dikeluarkan oleh MUI, ada beberapa ajaran IM yang menurutnya masuk dalam kriteria sesat itu.

"Kalau pengakuan korban benar, maka ada beberapa ajaran IM yang masuk indikasi sesat itu," tegasnya. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.