Piye

Tradisi Bau Nyale Pesan Sosial Dan Geliat Pariwisata Daerah

Tradisi Bau Nyale Pesan Sosial Dan Geliat Pariwisata Daerah
SuaraLombok.com Lombok Tengah - Tepat menjelang terbit fajar ribuan warga dari berbagai penjuru wilayah menyerbu tepian Pantai Seger Desa Kuta Kabupaten Lombok Tengah untuk mengikuti pesta rakyat ‘Bau Nyale’ atau menangkap cacing karang yang dalam bahasa latin disebut Eunice Fucata pada Jumat pagi (17/02).

Pantauan Suara Lombok di arena Bau Nyale ribuan warga lokal dari berbagai wilayah beserta wisatawan domestik berikut wisatawan mancanegara membaur menjadi satu berburu cacing nyale yang menyebar dan muncul di permukaan perairan sepanjang pantai Seger dengan menggunakan peralatan seadanya.

Meski menurut warga kehadiran nyale pada tahun ini tak sebanyak pada tahun sebelumnya, namun kemunculan nyale pada saat ini memberi kesan tersendiri bagi para wisatawan yang sengaja datang dan ikut begadang semalam suntuk untuk menunggu kehadiran nyale pada pagi harinya.

“Ini festival rakyat yang luar biasa, sangat menarik” ucap George seorang wisatawan asal Australia yang turut larut dalam kemeriahan berburu nyale bersama para warga lokal.

Hal senada juga disampaikan Vera seorang wisatawan Domestik asal Surabaya yang ikut dalam keseruan berburu cacing karang diantara warga.

“Ini pengalaman pertama dan tidak pernah saya temui sebelumnya” tutur Vera sambil menunjukkan nyale hasil tangkapanya dalam botol air mineral berukuran tanggung.

Dalam bahasa lokal Nyale sendiri berasal dari kata Nyala (menyala-red) yang menggambarkan ragam warna cacing karang yang berwarna-warni yang diyakini warga merupakan jelmaan seorang Putri cantik dalam legenda masyarakat Suku Sasak bernama Putri Mandalika yang biasanya hadir setiap tanggal 20 bulan kesepuluh kalender sasak yang juga menandai akan berakhirnya musim penghujan.

“Nyale itu dari kata nyala berwarna-warni ada yang merah ada yang hijau kuning dan seterusnya itulah Putri Mandalika” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Loteng, H.L. Muh. Putria yang ditemui disela-sela acara Bau Nyale.

Lebih jauh Putria menjelaskan bahwa dalam konteks kekinian Bau Nyale memberikan makna positif bagi warga. Dalam konteks sosial pesan moral dari seorang Putri Mandalika yang rela berkorban demi kepentingan orang banyak menjadi pelajaran yang baik kepada warga untuk berjiwa sosial yang tinggi, mementingkan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri sendiri.

Disisi lain tradisi Bau Nyale yang setiap tahun diadakan oleh masyarakat khususnya Lombok Tengah secara ekonomis berdampak pada roda perekonomian rakyat yang meningkat pada saat festival digelar dengan kehadiran ratusan ribu orang yang diharapkan berdampak positif bagi kemajuan pariwisata daerah.

“Nilai positifnya dengan Bau Nyale mengajarkan kita agar tidak mementingkan diri sendiri dan secara ekonomis puluhan ribu orang bahkan ratusan ribu orang yang datang butuh transportasi kuliner dan akomodasi berdampak pada perputaran ekonomi rakyat” jelas Putria yang berjuluk Datu Sile Dendeng.

Dalam perhelatan pesta rakyat Bau Nyale tahun 2017 ini, puluhan rangkaian acara budaya dikemas pihak Dinas Pariwisata Daerah yang dimulai sejak tanggal 30 Januari lalu diantaranya dengan menggelar Pemilihan Putri Mandalika, Tradisi Presean  dan puncaknya pada tanggal 16 Februari yang diakhiri dengan Pestival Bau Nyale.

“Bau nyale 2017 kita kemas untuk menggali dan meningkatkan nilai nilai tradisi yang ada dalam masyarakat Lombok” pungkas Putria. (02)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.