Piye

Pemdes Lingkar Utara Ancam Tutup Jalur Tibu Lempanas

Pemdes Lingkar Utara Ancam Tutup Jalur Tibu Lempanas
SuaraLombok.Com | Lombok Tengah - Tiga kepala desa bersama satu anggota DPRD Loteng lingkar Utara mengancam akan menutup jalur air Tibu Lempanas.

Ancaman itu dilayangkan mengingat janji Pemkab yang akan memanfaatkan sumber air Tibu Lempanas setelah dibangunnya bendungan pengganti dari Eat Tereng tidak kunjung dipenuhi.

“Kami hanya ingin tagih janji, karena sumber air kami dimanfaatkan PDAM, kami di sana yang jadi korban,” ungkap Kades Lantan, Ahmad Harun Zain di hadapan Dirut PDAM, HL Kitab.

Dikatakan, masyarakat Desa Lantan, Desa Karang Sidemen dan Desa Tanak Beak justru terancam gagal panen pada musim kemarau ketika sumber air ini sudah dimanfaatkan oleh PDAM.

Sementara di satu sisi, janji untuk pembuatan bendungan sebagai pengganti tidak kunjung ditepati yang menyebabkan masyarakat lingkar Utara merasa kecewa dan tidak bisa memanfaatkan sumber air mereka sendiri.

Sementara itu, Kades Tanak Beak, Maknun mengatakan, pihaknya tidak hanya menuntut janji Bupati untuk segera membuat bendungan pengganti, tetapi juga menagih janji PDAM untuk menyalurkan CSR ke semua desa lingkar Utara yang sudah terkeda dampak pemanfaatan sumber mata air Tibu Lempanas ini.

“Kalau kami di Tanak Beak sih gampang, cukup PDAM dan Pemerintah tepati janji, selesai perkara,” singkatnya.

Selain itu, ia menyayangkan tidak ada sambungan pipa PDAM ke pemukiman warga. Termasuk ke Puskesmas Tanak Beak atau Puskesmas BKU II.

Padahal, jika dilihat dari tingkat kebutuhan mendasar, pemukiman warga setempat dan Puskesmas pada khususnya harus mendapat perhatian lebih.

“Kami malah kesulitan mendapatkan air, jujur lahan kami hanya dilewati saja,” geramnya.

Hal senada diungkap Kades Karang Sideme, Sanah yang membenarkan apa yang disampaikan dua Kades lainnya. Ia mengatakan, warga Karang Sidemen pada khususnya yang memiliki wilayah terancam gagal panen akibat tidak adanya air pada saat musim kemarau.

“Ini lucu sebenarnya, kami daerah penghasil air, tapi kami malah yang terancam tidak berhasil,” ucapnya.

Yang lebih memprihatinkan, lanjut dia, masih belum adanya sambungan PDAM ke sekitar 800 rumah warga. Padahal, pada awalnya, janji perusahaan akan mengalirkan air ke rumah warga tanpa diminta.

Sementara itu, ancaman penutupan jalur air PDAM juga dilayangkan anggota DPRD Loteng, Supriadi yang menjadi anggota Komisi II dan membidangi masalah ini.

Dia menegaskan, jika pemerintah dan PDAM secara khusus tidak menepati janji, ia tidak bisa menjamin jika masyarakat akan melakukan tindakan di luar kewajaran.

“Ini hasil reses saya, warga sudah capek dengan janji-janji manis selama ini,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Dirut PDAM, HL Kitab mengatakan, PDAM masih mengupayakan memenuhi tuntutan masyarakat lingkar Selatan.

Hanya saja, ia tidak mau disebut tidak menepati janji seperti yang dituduhkan oleh beberapa pihak. Termasuk mengenai CSR yang menjadi keluhan selama ini.

“Kalau CSR sudah kita distribusikan, itu ada buktinya,” bantah Kitab.

Terkait dengan sambungan pipa ke rumah warga setempat, pihaknya akan segera melakukan sambungan tetapi tetap akan melalui prosedur yang ada.

Diinformasikan Kitab, debit air dari mata air tibu lempanas mencapai 600 hingga 800 liter per detik yang dialirkan ke saluran PDAM. (09)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.