Piye

Presiden Himbau Tak Beli Cabe Rawit, Ini Tanggapan DPRD Lombok Tengah

SuaraLombok.Com | Lombok TengahImbauan Presiden RI, Joko Widodo untuk tidak membeli cabe rawit karena harganya mahal membuat sejumlah kalangan justru merasa tergelitik.
Mereka mengatakan, solusi yang diberikan Presiden RI tentang tidak membeli cabai rawit justru tidak akan memberikan solusi. “Masa solusinya begitu, kan lucu,” ujar anggota Komisi II DPRD Loteng, Supriadi.
Di satu sisi, imbauan Presiden ini akan merugikan petani cabai rawit yang saat ini bahkan banyak yang merasa tidak diuntungkan. Sebab, menurut penelusurannya, permainan harga bukan berada di petani cabai tetapi berada di tengkulak.
“Loh, kalau pemerintah turun langsung ke lapangan, petani masih jual harga murah kok, tengkulaknya yang perlu diusut,” bebernya.
Rata-rata petani di wilayahnya, Dapil BK-BKU, petani cabai menjual cabai rawit masih dengan kisaran harga paling mahal Rp. 65 ribu per kilogram.
Meski lebih mahal dari harga sebelumnya, harga di pasar yang mencapai Rp. 120 ribu per kilogram bukan permainan dari petani cabai.
“Coba kroscek,” imbaunya.
Kembali ke masalah imbauan Presiden, Supriadi justru mengatakan jika solusi yang ditawarkan tidak pro terhadap rakyat. Sebab, masyarakat ingin solusi berupa tindakan pemerintah agar harganya turun. Bukan malah menyusahkan masyarakat.
“Ini yang diminta, kalau tidak dibeli, mau pakai apa, tidak cukup lah Cuma pakai cabai keriting atau cabe hijau. Apalagi kita orang Lombok, kata orang pedas,” katanya.
Sebelumnya, dilansir di berbagai media massa, Presiden Jokowidodo dengan tegas memberi imbauan kepada masyarakat agar tidak membeli cabai rawit yang saat ini harganya selangit.
Joko Widodo dalam statemennya memberi pilihan kepada masyarakat agar sebaiknya menggunakan cabai merah atau cabai hijau yang harganya masih relatif murah dibanding harga cabai rawit. (ray)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.