Piye

Pak Lurah Bingung, Drainase Tak Kunjung Dinormalisasi

SuaraLombok.com | Mataram- Sedimentasi drainase di Kelurahan Karang Pule semakin parah. Darainase yang dulunya sedalam lebih satu meter itu kini tinggal 15 cm dari drainase tersebut. Hal ini yang kerap menjadi keluhan warga setempat.

“Lokasinya di belakang SD 40 Ampenan dan panjangnya hampir satu kilometer,” ujar Lurah Karang Pule H Taufiqurrahman, Kamis (5/1)

Taufik menuturkan berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani permasalahan ini. Termasuk membuat pelaporan ke beberapa instansi terkait. Seperti Pemkot Mataram melalui Dinas PU, Dewan, hingga gubernur NTB.

“Kita sudah bersurat kesana,” sambungnya.

Namun surat tersebut belum mendapat respon yang signifikan. Hingga saat ini Dinas PU masih memintanya untuk menunggu. Sebab semua pekerjaan memiliki waktu eksekusi masing-masing.

“PU bilang tunggu masanya,” aku Taufiq.

Ia memahami akan hal tersebut. Terlebih lagi alat berat milik PU sulit menjangkau keberadaan drainase tersebut.  Namun menurut Taufiq hal ini harus segera ditangani. Sebab dikhawatirkan banyak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat.

“Ini salah satu yang ingin kami rubah di 2017 ini,” tegasnya.

Taufik melanjutkan, aliran air sulit mengalir akibat sedimentasi yang terlalu tinggi. Setiap ada aliran air dari Pandansalas Cakra, air tidak mengalir dengan lancar. Bahkan yang terparah pada saat hujan deras beberapa waktu lalu. Aliran air drainase meluap dan menggenangi rumah warga.

“Kalau tidak dijebol di dekat koramil di Pagesangan Barat itu habis sudah terendam rumah warga,” jelasnya.
Jika Dinas Pu masih belum bisa menangani hal tersebut, ia hanya bisa berharap melalui dana aspirasi dewan. Ia berharap dewan dapat memberikan bantuan untuk normalisasi. Terlebih lagi, di lingkungan tersebut juga terdapat yayasan sekolah milik salah seorang anggota dewan DPRD Provinsi NTB.

“Ini juga jadi akses anak sekolah,” pungkasnya.

Tak banyak yang diinginkan Taufiq, permasalahan ini segera diatasi. Sebab hal ini merupakan permasalahan yang tak juga kunjung menemukan solusi. Ia menambahkan, seandainya ia memiliki dana, ia akan mengupayakan normalisasi sendiri.

“Sekalian kita beramal jariyah, namun apa mau dikata,” tandasnya. (MyO)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.