Piye

Mati Suri Tapi Dapat Dana Besar, Kok Bisa?

SuaraLombok.com | Lombok Utara - Masyarakat di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) mempertanyakan, kaitan dana yang sudah diberikan pihak Desa kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) LKM yang bergerak di bidang simpan pinjam. Pasalnya, diketahui BUMDes tersebut sudah tidak aktif lagi sementara pada tahun 2015 lalu, telah menerima suntikan dana bersumber dari ADD senilai Rp 100 juta.

‘’Tidak tahu sekarang sudah jarang aktif, mungkin pengurusnya sibuk sendiri,” ujar salah seorang warga Desa Santong, Jihan Tania, Rabu (11/1).

Menurutnya, terakhir kali usai menerima BUMDes justru terkesan mati suri. Sementara warga dalam hal ini merasa dirugikan, pasalnya warga yang ingin melakukan peminjaman tidak bisa terakomodir dengan baik. Akibatnya warga memilih meminjam uang kepada para rentenir.

‘’Padahal mereka dapat dana tiap tahun tetapi tidak pernah aktif, ini kan yang dirugikan masyarakat juga,” keluhnya.

Sementara itu, Sekertaris Desa Santong, Mastar yang dikonfirmasi membenarkan kaitan mati surinya BUMDes di Desanya. Ia juga mengakui bahwa pihak Desa telah memberikan suntikan dana kepada BUMDes melalui ADD atau APBD tahun 2015 sebesar Rp 100 juta.

‘’Bantuan ini kami ambilkan lewat ADD. Total bantuan dana yang diberikan sebesar Rp 200 juta. Posisi kami sekarang sedang menunggu laporan keuangan 2015 yang akan diserahkan BUMDes tersebut,” ungkapnya.

‘’Karena kita belum tahu anggaran sebesar itu dialokasikan kemana saja dan digunakan untuk apa saja. Yang jelas kita sedang kejar sekarang katanya sudah disusun oleh BUMDes,” sambungnya. 

Pihaknya akan mengambil langkah ketika sudah mendapatkan laporan pertanggungjawaban atas dana tersebut. Selanjutnya, ia pun menimbang apakah akan ada pergantian pengurus dan manajer BUMDes yang baru. Mastar mengaku, pihak Desa sempat pernah bertemu dengan manajer dan pengurus BUMDes, dan dari penjelasanya diketahui ketidak aktifannya BUMDes meskipun sudah diberikan bantuan lantaran kredit macet masyarakat. 

‘’Kita ingin buktikan benar atau tidak. Tetapi nanti akan diperiksa semuanya jangan sampai menimbulkan gejolak dibawah,” tandasnya.

Secara terpisah, Kepala Inspektorat Lombok Utara, Zaenal Idrus mengakui, bahwa pihaknya sudah mendengar informasi tersebut. Untuk memastikan kondisi rill dugaan penyelewengan dana ia akan segera melakukan kroscek langsung ke Desa setempat dan kemudian penerima bantuan tersebut.

‘’Kami harus periksa dulu, setelah itu baru kita tahu, nanti akan berkoordinasi dengan Bidang Pemdes,” terangnya. 

Ketua BUMDes LKM Santong, Khairil Anwar yang dihubungi mengaku, pihaknya memang sudah menerima bantuan dana dari Desa yang sumbernya berasal dari ADD sebesar Rp 100 juta pada 2015. Namun, dari jumlah tersebut ia hanya menerima Rp 84 juta, kemudian ada pinjaman dana dari Kades senilai Rp 5 juta sehingga total yang diterima BUMDes hanya Rp 79 juta. 

‘’Memang kita diminta laporannya, sekarang masih disusun. Alokasi dana yang diberikan digunakan untuk mengatasi kredit macet dari masyarakat. Apalagi pada 2015 lalu kondisi BUMDes juga kurang stabil,” bebernya.

‘’Alasan kenapa kita tidak aktif, selain kredit macet masyarakat juga penarikan tabungan nasabah dalam jangka waktu pendek dengan jumlah puluhan juta. Ini yang menguras kas BUMDes,” kilahnya.(bon).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.