Piye

Cabai Mahal, Warga Taman Sari Tanam Sendiri di Pekarangan

SuaraLombok.com | Mataram- Kelurahan Taman Sari mulai menggalakkan  pemanfaatan lahan pekarangan. Terlebih lagi mengingat harga beberapa komoditas di pasar meningkat tajam.
 Khususnya cabai dan sayur mayur. Pemanfaatan pekarangan tersebut diharapkan dapat membantu warga, terutama ibu rumah tangga.

Arief Satriawan, Lurah Taman Sari menuturkan tahun ini mulai mengadakan pemberdayaan pekarangan rumah. Seluruh pekarangan setiap warga kini disulap menjadi lahan tanam. 

Pohon cabai, terung, sawi, kangkung air, dan sayur-mayur lain. Seluruhnya ditanam dalam media tanam berupa polybag atau pot plastik yang disusun bertingkat di halaman rumah. Mereka juga menanam berbagai tanaman obat seperti jahe dan kunyit.

Menurut Arief, warga mulai memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan pertanian sejak awal tahun ini. Penyebabnya, warga tidakmempunyai sawah atau kebun untuk ditanami berbagai tanaman.
Ia mengatakan, jumlah tanaman di halaman rumahnya memang tidak terlalu banyak. Namun, penghasilan dari bercocok tanam itu cukup membantu menambah penghasilan rumah tangganya. 

"warga bisa lebih berhemat," katanya, Sabtu (14/1)

Selain berhemat, warga juga dapat memanfaatkannya untuk menambah penghasilan. Mereka dapat menjual kembali ke pasar atau warung terdekat. 

Ia melanjutkan, saat ini pihak kelurahan tengah bekerjasama dengan kelompok usaha tani. Terutama dalam pengadaan bibit tanam untuk pekarangan. Bibit tersebut dapat dikembangkan warga dan sesuai untuk ditanam di pekarangan.

“Kita sedang usahakan kerjasama bibitnya,” aku Arief.

Sementara untuk media tanam sendiri, pihak kelurahan tengah melakukan sosialisasi penggunaan barang bekas. Seperti botol bekas yang digunakan sebagai pot. Warga dihimbau untuk memanfaatkan barang bekas tersebut untuk media penanaman. 

“Jadi tidak harus selalu ditanah datar,” sambungnya.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghematan. Sebab berdasarkan perhitungan pihak kelurahan, memnfaatkan pekarangan bisa menghabiskan dana hingga Rp 5 juta. Jumlah tersebut habis digunakan untuk membeli pipa.

“Sebab itu kita anjurkan untuk menggunakan barang bekas pengganti pipa,” pungkasnya

Ia menambahkan, teknologi ini terbilang sangat gampang diterapkan. Berbeda dengan tanaman yang ditanam langsung ditanah datar. Semua harus terus disirami dan dipupuk. Hal ini menggunakan media yang berbeda dan tentunya butuh memberikan pemahaman terlebih dahulu pada masyarakat.

“Saat ini masih kita ujicoba di Lingkungan Gatep Indah,”tandasnya. (04) 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.