Piye

Pasca Banjir, Pneumonia di Kekalik dan Tanjung Karang Meningkat

SuaraLombok.com | Mataram - Selama musim hujan penyakit Pneumonia dan ISPA di Kelurahan Kekalik Jaya dan Kelurahan Tanjung Karang meningkat cukup signifikan. Berdasarkan data Puskesmas Tanjung Karang, penyakit ini bahkan menduduki peringkat pertama dalam rangking 10 besar penyakit dalam masyarakat. Setelahnya disusul oleh penyakit hipertensi.
“Demam Berdarah malah belum ada laporan masuk,” aku L Budiawan SKM MM, Selasa (20/12)

Ia menuturkan, berdasarkan data hingga November 2016, Puskesmas Tanjung Karang menangani 421 kasus Pneumonia. Jumlah ini meningkat cukup signifikan dibanding tahun lalu sebanyak 349 kasus hingga bulan yang sama.

“Bahkan tahun lalu Pneumonia tidak masuk 10 besar,” sambungnya.

Pneumonia tertinggi berada di Kelurahan Tanjung Karang sebanyak 90 kasus. Disusul oleh Kelurahan Kekalik Jaya sebanyak 64 kasus.  Sisanya tersebar di beberapa kelurahan lainnya. 

Ia mengatakan, penyakit ini disebabkan faktor lingkungan. Kondisi lingkungan yang tidak sehat membuat penyebarannya cukup cepat. Contohnya, banyak warga di kelurahan Tanjung Karang dan Kelurahan Kekalik Jaya menggunakan karet sebagai bahan bakar pengolahan tahu. 
“Memang efisien secara ekonomi namun sangat berdampak buruk bagi kesehatan,” tegasnya.

Asap yang ditimbulkan karet tersebut dapat memicu munculnya Pneumonia dan ISPA pada anak. Sebagian besar dalam data tercatat penderita Pneumonia berkisar usia 1 hingga 4 tahun.

Tak hanya bahan bakar karet, bahkan kondisi cuaca pun turut ikut andil di dalamnya. Seperti hujan maupun banjir. Pasca banjir di Kelurahan Kekalik Jaya beberapa waktu lalu dinilai turut membuat penderita penyakit ini meningkat.

“Pasca banjir pun turut berpengaruh,” sambungnya.
Sementara ini, pihak puskesmas rutin melakukan sosialisasi mengenai penyakit ini. Ia menekankan terkait masalah Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).  Terutama di tiga kelurahan, yakni Tanjung Karang, Tanjung karang Permai, dan Kekalik Jaya.

Ia melanjutkan, peran serta masyarakat sangat penting. Sebab, isu berbagai penyakit justru datang dari masyarakat. Sehingga puskesmas dapat melakukan penanganan cepat.

Sementara untuk penyakit pasca banjir seperti diare belum meningkat. Dalam sehari, tercatat 3 hingga 5 pasien datang berobat ke puskesmas. Hal ini memang sudah terjadi sejak musim hujan datang.

“Sampai sekarang kita tetap rutin turunkan tim untuk pemeriksaan lapangan sekaligus sosialisasi,” pungkasnya.

Disamping itu, Puskesmas juga mengoptimalkan peran Poskesdes. Hal ini untuk mempermudah jarak jangkau pengobatan.

“Alhamdulillah belum ada yang sampai dirujuk ke rumah sakit,” tandasnya. (MyO)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.