Piye

Diserang Dewan, BWS Meradang

SuaraLombok.Com|Lombok Tengah - Beberapa anggota DPRD Lombok Tengah kembali menyerang Balai Wilayah Sungai (BWS) NT I. Kali ini, serangan dewan itu berkaitan dengan proyek normalisasi Bendungan Batujai yang sudah hampir satu semester dikerjakan pihak BWS, namun tak terlihat hasilnya.

Diungkapkan salah seorang anggota DPRD Loteng, H.L. Arif Rahman Hakim, proyek BWS ini terkesan asal-asalan. Pasalnya, sampai sejauh ini proyek dengan anggaran hampir mencapai Rp 5 Miliar ini tidak bisa diselesaikan.

“Malah masyarakat kita yang menjadi korban, bau eceng gondong itu menyengat sekali,” ujarnya ketus.

Tak hanya itu, dia juga menilai bahwa BWS hanya melakukan permainan proyek semata-mata untuk menghabiskan anggaran. Hal itu disebabkan dari pekerjaan yang sudah dilakukan BWS, justru terkesan asal-asalan. Bagaimana tidak, pengerjaan normalisasi itu hanya dilakukan dengan hanya menggunakan alat berat berupa pengeruk saja, dan baru beberapa waktu terakhir ini menggunakan kapal. “Itupun sudah lama dan sudah sering kami protes, baru datangkan kapalnya,” kesalnya.

Terkait tudingan dari pihak dewan, pihak BWS akhirnya angkat suara. Kepala BWS NT I, Asdin Juliadi yang ditemui awak media ketika check alat berat jenis dreger di Bendungan Batujai mengatakan, pihaknya selalu serius dalam melaksanakan pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawabnya. Hanya saja, lanjut dia, proyek normalisasi ini memang tidak semudah yang dibayangkan sehingga target penyelesaiannya memang lama. “Kami sudah target di tahun 2017 kok,” ketusnya.

Asdin juga mengatakan, guna membuktikan komitmen menyelesaikan proyek ini, pihaknya sudah mendatangkan alat berat berupa kapal pengeruk sidementasi. Hal itu dilakukan agar bisa dengan segera menyelesaikan pembasmian eceng gondok dari area bendungan. Padalah, lanjut dia, dalam program normalisasi bendungan ini, pihaknya tidak pernah memprogramkan mendatangkan alat pengeruk itu untuk membersihkan tanaman eceng gondok yang ada di area bendungan. “Ini murni inisiatif rekan-rekan BWS dan OP,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Asdin justru mengeluhkan masalah sampah rumah tangga yang menjadi salah satu penyebab utama berkembangnya eceng gondok di kawasan tersebut. Limbah rumah tangga itu, lanjut dia, tidak bisa dibendung sehingga penyebaran eceng gondok menjadi tidak terkendali. Apalagi, untuk pasokan air bendungan ini berasal dari lima sungai di seputaran Kota Praya yang rata-rata menyumbang limbah rumah tangga sangat besar.

Bahkan, dari data hasil penelitian yang dimilikinya sekitar 750 hektare dari 850 hektare luas bendungan sudah tersedimentasi oleh endapan lumpur dari penyebaran eceng gondok. “Kalau tidak ditangani, termasuk oleh pemerintah daerah, akan terjadi pendangkalan dalam waktu dekat,” sambungnya.

Selain itu, dia juga mengeluhkan keramba yang dibuat dan dipasang oleh warga. Menurutnya, keramba itu menjadi salah satu penghalang proses normalisasi bendungan tersebut. Dia berharap agar masyarakat bisa mengerti dan bersedia membuka keramba ikan yang selama ini sudah terpasang. “Jujur keramba ini juga menghalangi, alat kami tidak bisa operasi bebas dalam jangakauan luas,” keluhnya. (ray)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.